Minggu, 14 Desember 2008

Dayak Bahau

dalam suatu survey di long bagun, kaltim, kami ditemani oleh pemandu dari masyarakat setempat. Bapak Huvat, seorang suku dayak bahau. dalam pelaksanaan kegiatan, beliau sangat menguasai seluk beluk hutan, sungai2 yang mengalir, landscape, jenis pohon apa saja yang ada, bahkan hapal lokasi dimana tumbuh banyak pohon durian hutan, hehe... selama memandu, beliau hanya menggunakan celana pendek, tanpa baju, tanpa sepatu. perlengkapan lainnya adalah, sebilah mandau dan anjat yang selalu digendongnya. di dalam anjat tersebut terdapat tembakau dan segala kebutuhan beliau. kadang kami menitipkan barang bawaan di dalam anjat itu.
pada intinya kami semua kagum akan kemampuan beliau, sehingga suatu saat kami memberanikan diri untuk bertanya,
"Pak Huvat pernah tersesat di hutan?"
"gak pernah"
"klo kami yang tersesat di hutan, apa yang sebaiknya kami lakukan?"
"begitu kalian sadar klo tersesat, jangan kemana-mana, diam saja di tempat. biar kami saja yang mencari kalian nanti."
Pak Huvat dan orang2 kampung hapal dengan kondisi hutan di daerah ini, dengan cara menyusuri tempat terakhir terlihat ke tempat2 yang memiliki kemungkinan disinggahi oleh orang yang tersesat atau dengan cara melakukan penyisiran. biasanya 1-2 hari orang yang tersesat sudah ditemukan.
"klo kami tidak ditemukan atau tidak ada yang mencari, gimana pak?"
"cari anak sungai atau jalan"
maksud Pak Huvat adalah, di setiap lembah atau cekungan pasti akan ditemui anak sungai, ikuti saja arah aliran anak sungai tersebut, karena pasti akan bermuara di sungai yang lebih besar (sungai mahakam) yang setiap hari dilalui oleh kapal dan perahu. cara lainnya adalah dengan mencari jalan HPH, apabila sudah ditemukan, segera perhatikan kondisi jalan tersebut, apakah merupakan jalan utama yang sering dilewati yang ditandai dengan tanah yang padat dan penuh jejak ban mobil, atau jalan lama yang sudah ditinggalkan. klo yang ditemukan adalah jalan lama, maka telusurilah kedua arah jalan tersebut hingga menemukan jalan yang baru yang masih digunakan/dilewati. klo sudah ditemukan, tunggu saja, suatu saat akan ada mobil perusahaan yang lewat. atau klo mau berjalan, amatilah patok KM yang ada, berjalanlah ke arah KM nol. apabila kita tersesat di daerah dekat lokasi penebangan HPH, maka ikutilah arah suara mesin chainsaw atau suara pohon yang rebah yang ditebang, karena di sana pasti ada orang.
"Bapak tidak takut kena pacet?"
"gak, pacet klo kenyang jatoh sendiri"
pacet, binatang sejenis lintah yang berada di darat, mengisap darah hewan atau manusia sebagai makanannya. pacet yang sebesar jarum ini akan menempel pada tubuh dan memasukkan mulutnya ke dalam kulit untuk mengisap darah hingga volume tubuhnya membesar 5-10 kali. setelah itu pacet akan menjatuhkan dirinya dari tubuh korbannya. sayangnya, pacet ini memiliki semacam "enzim" atau zat yang dapat mencegah darah mengental, sehingga darah akan terus mengalir pada luka bekas gigitan pacet tersebut.
"Bapak tidak takut dengan binatang buas?"
"kita kan manusia dan bawa mandau"
apabila kita bertemu dengan binatang buas, bagaimanapun buasnya, kita adalah manusia yang memiliki akal untuk menghadapinya,apakah akan kita lawwan atau kita hindari. apalagi ditambah dengan alat bantu berupa sebilah mandau (parang) yang akan lebih memudahkan.
"nah, klo sama hantu?"
sambil tersenyum, beliau menjawab "saya kan juga hantu..."
kami semua bergidik, perlahan melirik ke arah bawah, melihat kaki Pak Huvat apakah menginjak tanah atau tidak...ah, lega rasanya, kaki yang telanjang itu masih menginjak tanah.
maksud beliau adalah, kita sebagai makhluk Tuhan tidak perlu takut dengan makhluk Tuhan lainnya. terlebih lagi kita sebagai umat beragama tidak perlu merisaukan hal tersebut.
sebuah percakapan yang singkat, dengan jawaban yang sederhana, namun terkandung nilai2 kearifan di dalamnya. saya sungguh beruntung dapat bertemu dengan beliau. seorang tua yang bijak, seorang yang ditempa oleh pengalaman dan berguru pada alam.
salut pada beliau...

Tidak ada komentar: