Tabang
Suatu ketika di akhir tahun 90-an, saya berkesempatan jalan dalam rangka survey ke daerah Tabang di Kabupaten Kutai. Saat itu kami mengunjungi suatu desa di hulu sungai Belayan yang merupakan desa binaan dari suatu HPH di hulu kecamatan Tabang. Secara administrasi, warga desa tersebut berjumlah kurang lebih 50 kk dan berasal dari suku dayak Punan. Rupanya desa itu dibangun dalam rangka program “merumahkan” anggota suku Dayak Punan yang hidup secara nomaden di hutan dan mengembangkan pertanian menetap (ladang) serta peternakan. Kegiatan lain untuk menunjang kebutuhan rumah tangga yang dikembangkan adalah kerajinan anyaman tikar. Pada saat itu, desa tersebut telah berumur sekitar 7 tahun.
Pada saat kami berkeliling desa, yang saya saksikan hanyalah kaum perempuan, anak-anak dan orang tua, tidak nampak seorang pun pemuda. Nampak juga beberapa rumah yang kosong dan terlihat sudah lama tidak didiami. Menurut penjelasan petugas perusahaan yang mendampingi kami, para pemuda desa tersebut pergi ke hutan untuk berburu dan mencari sarang burung wallet – yang saat itu sedang booming-. Sementara beberapa keluarga telah kembali ke hutan untuk nomaden, dan rumah jatah yang ada ditinggalkan begitu saja dan suatu saat nanti kembali ke desa untuk beberapa hari, demikian seterusnya. Ternyata mereka masih belum dapat sepenuhnya meninggalkan kehidupan nomaden dan menetap di desa. Ternyata rumah di desa tersebut telah beralih fungsi menjadi “rumah singgah”.
Program pertanian yang dilakukan ternyata juga tidak berhasil. Areal yang mulanya diperuntukkan untuk tanaman padi, saat itu hanya berupa alang-alang dengan beberapa tanaman palawija yang tidak terawat. Hanya ada sepetak lahan yang nampak subur dengan berbagai macam jenis tanaman sayuran dan palawija. Dan ternyata lahan itu dikerjakan oleh para petugas perusahaan yang kebetulan berasal dari suku Jawa. Ternyata sangat sulit untuk merubah budaya yang ada. Suku punan tidak terbiasa bercocok tanam. Mereka terbiasa hidup dari alam dan mengambil apa yang telah tersedia oleh alam. Mereka selama ini telah dimanjakan oleh alam. Kekayaan alam berada di sekeliling mereka.
Demikian juga dengan program peternakan. Dapat dikatakan gagal total. Pihak perusahaan mencoba mengembangkan ternak kambing. Namun kambing yang didatangkan dari samarinda justru mati karena stress dikejar-kejar setiap saat oleh sekawanan anjing pemburu milik para warga. Rupanya anjing pemburu suku Punan belum pernah bertemu dengan kambing, dan mengira kambing-kambing tersebut merupakan hewan buruan.
Kerajinan anyaman tikar juga tidak berkembang dengan baik. Hal ini karena proses pemasaran yang kurang. Para konsumen merasa kecewa dengan ukuran yang tidak sesuai dengan yang telah dipesan. Sebenarnya hal ini terjadi karena adanya salah pengertian atau atau ketidaksamaan persepsi. Dalam persepsi kita ukuran “satu kilan” adalah panjang telapak tangan antara ibu jari hingga jari kelingking yang direntangkan, namun ukuran “satu kilan” yang berlaku pada suku Punan adalah panjang antara ibu jari hingga ujung jari telunjuk yang direntangkan. Demikian juga dengan ukuran “depa” menurut persepsi kita adalah panjang antara ujung jari sebelah kanan dan kiri pada dua tangan yang direntangkan, sementara ukuran “depa” yang berlaku pada suku Punan adalah jarak antara ujung jari tangan yang direntangkan hingga bahu sebelahnya. Dengan demikian ukuran yang berlaku secara umum dengan suku Punan tidak sama, dan ukuran yang berlaku pada mereka cenderung lebih pendek. Hal inilah yang membuat konsumen yang memesan anyaman tikar merasa kecewa.
Berau
Satu lagi desa pemukiman suku Punan yang saya kunjungi di pedalaman Kabupaten Berau. Kejadian yang hamper sama juga terjadi pada desa tersebut. Meskipun jumlah penduduk yang menetap lebih banyak. Di desa ini saya bertemu dengan petugas klinik kesehatan (mantri) yang telah bertugas hampir 5 tahun.
Dalam obrolan kami, beliau bercerita bahwa selama bertugas di desa tersebut, beliau tidak pernah sama sekali menyuntik seorang pun penduduk maupun membuat resep obat untuk penyakit yang “berat”. Selama ini, beliau hanya memberikan obat untuk sakit flu atau gatal2.
Hal yang terlintas di benak saya saat itu adalah tidak mungkin penduduk di desa tersebut sehat2, pasti pernah terjadi beberapa kasus penyakit malaria dan semacamnya. Kemungkinannya adalah klinik tidak memiliki stok obat yang cukup atau bahkan kemampuan sang mantri yang perlu dipertanyakan.
Sesaat sang mantri tersenyum penuh arti. Dan selanjutnya meneruskan ceritanya bahwa penduduk, para suku Punan tersebut, tidak mempercayai kemampuan seorang mantri. Mereka lebih percaya kepada kemampuan alam. Mereka tidak akan berobat kepada mantri, kecuali untuk sakit flu atau gatal2. Untuk penyakit yang lebih berat mereka akan masuk ke hutan untuk mencari daun, buah, akar2an, dll yang akan digunakan sebagai obat. Kadang kala mereka melakukan ritual tradisional berupa tarian penyembuhan (tari belian), melalui tarian ini sang dukun meminta kesembuhan kepada dewa, sehingga akan memperkuat sugesti si pasien untuk sembuh. Dan ternyata hampir semua kasus penyakit yang terjadi di desa tersebut dapat disembuhkan.
Saya pun bertanya kpada sang Mantri, kalo memang tidak ada yang dikerjakan di desa ini, mengapa ia justru betah dan mampu bertahan selama hamper 5 tahun di desa tersebut. Sebuah desa di tengah hutan di pedalaman Berau.
Sang Mantri lagi2 tersenyum, “saya penasaran dengan obat2 tradisional mereka. Saya ingin ‘mencuri’ ilmu mereka. Saya sudah membuat catalog tentang obat2 tradisional, tapi hingga saat ini masih sedikit, karena mereka tidak mau memberitahukan secara langsung. Mereka hanya berpesan agar saya lebih memperhatikan perilaku alam. Pernah mereka memberitahu obat untuk suatu jenis penyakit, tapi saya yang tidak tahu jenis tanamannya serta cara pengolahannya karena menggunakan bahasa daerah mereka. Makanya saya lebih memilih untuk terjun secara langsung dan mengamati mereka saat mencari bahan dan mengolahnya menjadi obat”.
Sang Mantri juga bercerita apabila ada seorang perempuan yang akan melahirkan, maka ia dan suaminya akan masuk hutan, dan keesokan harinya sudah kembali bersama bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat tanpa sedikit pun tindakan medis, hanya dengan memanfaatkan daun2an atau akar2an dari hutan. Namun sayangnya sang Mantri juga belum mengetahui jenis tanaman yang digunakan. Saat ditanyakan kepada sang dukun, sang dukun hanya menyuruhnya untuk mengamati perilaku sejenis ular. Jenis ular ini mengkonsumsi suatu jenis tanaman yang diyakini oleh sang dukun memiliki zat atau resin yang mampu membantu elastisitas otot rahang dan tubuh ular pada saat menelan tubuh mangsanya yang lebih besar. Jenis tanaman tersebutlah yang digunakan oleh suku Punan untuk memperlancar kelahiran.
Entah benar atau tidak saya tidak tahu, yang saya tahu – mungkin tanpa bantuan tanaman apa pun - ular memang memiliki otot yang elastis dan kuat. Tapi yang jelas, selama ini suku Punan menggunakan jenis tanaman tersebut untuk membantu kelancaran saat melahirkan, dan hal tersebut ternyata berhasil. Ah, saya jadi bingung…
Sungguh sesuatu hal yang sangat mengagumkan, di balik kesederhanaan hidup, ternyata suku Punan telah mengembangkan cara pengobatan yang dari alam. Mereka mengamati kejadian alam, mempelajarinya dan menerapkan bagi kehidupan. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya, sesuatu perilaku yang perlu dicontoh. Kita perlu belajar banyak dari kearifan lokal masyarakat.
Dan sungguh mulia dedikasi sang Mantri, beliau rela bertahan di desa pedalaman bersama masyarakat lokal untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Sayangnya hingga saat ini saya tidak pernah lagi mendengar kabar beliau. Semoga saya beliau dalam keadaan sehat dan telah merampungkan “katalog obatnya”, serta disebarkan kepada masyarakat luas.
Kamis, 11 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar