perjalanan nggelandang di akhir '93 menyisakan banyak cerita, dari ribut dengan calo, tertinggal bis, rebutan bangku untuk tidur dengan pengemis di terminal kelapa bandung, makan jengkol, sesat di subang, nyuri mangga di indramayu, kehabisan bekal di jakarta, cerita cinta cirebon, dll
suatu desa di dalam hutan jati di perbatasan subang - indramayu, ternyata penduduknya masih terkebelakang di bidang pendidikan, jumlah penduduk yang lulus sltp masih bisa dihitung dengan jari, sementara yang lainnya cuma mengenyam pendidikan sd, itu pun dengan mutu yang kalah jauh dengan di kota. mereka tidak mengetahui negara ini, dalam bayangan mereka Indonesia hanyalah pulau jawa. sementara penduduk yang sepuh tidak familier dengan Soeharto, dalam pikiran mereka presiden RI adalah Soekarno. kehidupan mereka juga sangat sederhana dan apa adanya, masih jauh dari kebudayaan modern. televisi yang ada di desa tersebut hanya ada 1 buah dan cuma bisa menangkap siaran tvri. semua warganya memiliki hubungan keluarga. jumlah gadis di kampung itu sangat sedikit dibandingkan dengan... janda. yang masih gadis cuma anak2 kecil dan anak gadis yang masih sekolah, selebihnya sudah menikah atau pernah menikah walaupun umurnya baru 13th. di situ pernah sih naksir cewek yang umurnya sekitar 18-19th, cakep banget, klo cuma nike ardilla aja lewat, namanya war..., eh ga taunya doi dah punya laki, dan saat itu lagi ngurus perceraiannya yang ke-5, busyet dah... pantes aja kampung itu dijuluki produsen janda.
kebiasaan di kampung itu, klo musim panen dateng, para pemuda kampung yang "merantau" ke luar daerah, seperti subang, cirebon, bandung pada dateng untuk membantu panen sekaligus "pamer" keberhasilannya selama merantau, nah saat itulah "musim kawin" tiba. setelah panen lewat, para lelaki kembali ke perantauannya dan meninggalkan para istrinya selama beberapa bulan. karena tidak memperoleh nafkah lahir dan bathin, para istri biasanya minta cerai, begitu seterusnya yang terjadi saat itu. dan pada saat saya di sana kebetulan sedang ada proyek pembuatan jalan raya alternatif, dan para mandornya tergiur dengan kemolekan kembang2 desa, mereka "memetiknya" , menikahinya, tapi setelah itu ditinggalkan begitu saja. kasihan juga, mereka terlalu silau dengan modernisasi, mereka mudah sekali terbujuk dengan segala sesuatu yang berasal dari kota...
tapi jangan sekali-kali mengasihani di depan mereka, karena bagi mereka hal itu merupakan bagian hidupnya dan sudah dianggap sesuatu yang wajar. klo kita mengasihaninya justru dianggap menghina kehidupan mereka.
saya cuma berharap, semoga saja sekarang keadaan sudah berubah tidak seperti yang saya temui saat itu. sebenarnya saya ingin sekali berkunjung ke sana tapi masih belum sempet.
hehe...penasaran masih ada kampung yang seperti itu atau setidaknya pernah ada kampung yang seperti itu...?
coba deh klo sempet jalan2 ke haur geulis, ambil jalan ke selatan sekitar 13 km, ntar tanya aja dimana kampung produsen janda. sebagian orang di haur geulis juga tahu.
Minggu, 14 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar