Suku dayak punan adalah salah satu suku dayak yang ada di Kalimantan Timur. Menurut pendapat masyarakat, suku ini masih hidup primitif di tengah hutan dan tinggal di dalam gua. Masih menurut kabar, mereka memiliki ekor dan kadang bersifat kanibal. Tentunya kabar tersebut hanya merupakan cerita rakyat yang tidak benar. Namun semua itu karena suku ini sangat jarang ditemui dan kadang bersifat misteri.
Dalam suatu survey di hulu sungai Wahau di kab. Kutai pada tahun 1996, saya pernah bertemu dengan satu keluarga suku punan. Saat itu tengah hari dan tim kami sedang beristirahat. Dari terdengar lolongan anjing bersahutan, dan tak lama kemudian secara tiba-tiba, seorang suku punan dan anak lelakinya sudah ada di dekat kami. Potongan tubuh mereka sedang namun menunjukkan tubuh yang sehat dengan otot-otot yang terlatih. Tidak ada ekor. Raut muka keduanya khas suku dayak namun sedikit agak tirus. Kulitnya putih pucat dan agak kotor berlumpur. Mereka berdua bertelanjang dada dan tanpa alas kaki. Celana pendeknya sudah lusuh tidak jelas warna aslinya. Keduanya membawa senjata berupa sebilah parang dan sumpit panjang. Di pinggang anaknya tergantung sebuah tabung bambu untuk wadah anak sumpit – tentunya di dalam wadah bambu tersebut terdapat banyak anak sumpit yang terendam dalam racun yang mematikan -. Sebuah anjat – anyaman rotan berbentuk tas – yang tersandang di punggung sang ayah terlihat penuh dengan bekal, entah apa isinya.
Pada mulanya saya kaget dan takut teringat dengan cerita-cerita yang sudah kami dengar. Namun karena orang punan tersebut tersenyum kepada kami, maka saya memberanikan diri untuk menyapa. Sebelumnya teman tim saya berbisik agar saya menyembunyikan barang-barang berharga, karena apabila mereka memintanya, maka kami tidak boleh menolak. Saya tidak memikirkan hal tersebut, karena barang saya hanya berupa sebungkus rokok dan korek zippo, buku catatan pekerjaan serta sebungkus nasi untuk makan siang, tidak ada yang berharga. Dan seandainya mereka meminta salah satunya, maka saya juga akan meminta sebilah parangnya, sebilah parang mandau suku punan. Dan saya justru sangat menginginkannya.
Komunikasi yang terjadi di antara kami terjadi dengan menggunakan bahasa Indonesia patah-patah diselingi dengan bahasa tarzan. Menurut keterangan mereka yang berhasil saya tangkap adalah mereka sekeluarga sedang berburu dan sekaligus mencari buah hutan. Tempat tinggal mereka di suatu tempat yang masuk dalam kab. Berau yang jauhnya sekitar dua hari menggunakan perahu dayung tanpa mesin. Anak sulung bersama ibunya ada di dalam hutan beserta rombongan anjing sedang mencari babi hutan. Sedangkan dia dan anak keduanya mencari buah hutan. Anak ketiganya ada di pinggir sungai menunggu perahu dan pondok yang dibangun sementara mereka berburu di daerah ini. Suku punan hidup dari berburu dan mencari buah. Mereka hapal dengan lokasi buruan dan lokasi yang banyak terdapat pohon buah. Namun mereka hanya mengambil sesuai kebutuhan mereka saja. Berhubung saya tidak terlalu lapar, maka nasi bungkus saya serahkan pada mereka. Nampak oleh saya bahwa mereka sangat senang. Namun nasi bungkus itu tidak segera dimakan, tapi dimasukkan ke dalam anjat. Akan dimakan bersama keluarga, katanya.
Sesaat kemudian kami berbincang lagi hingga terdengar gonggongan anjing bersahutan dari arah bukit. Si anak langsung lari ke arah bukit, semantara sang ayah hanya berdiri sambil menegakkan kepala berusaha mendengar suara gonggongan dengan lebih seksama. Anjing-anjing saya mengepung dua ekor babi, katanya kemudian. Dan selanjutnya dia pun segera berlari menyusul anaknya.
Sepeninggalan mereka kami melanjutkan pekerjaan. Namun baru satu jam berjalan kami bertemu mereka lagi. Dalam hati kami bertanya-tanya, ada apa lagi mereka muncul di depan kami. Kali ini mereka muncul berempat, si ibu dan kedua anaknya berada di belakang, sementara sang ayah menghampiri kami. Kemudian dia mengatakan bahwa buruannya berhasil ditangkap, meskipun hanya seekor. Dia juga bercerita bahwa nasi bungkus yang saya berikan telah mereka makan bersama dan disisakan sedikit untuk anaknya yang tinggal di pondok. Rupanya mereka masih ingat dengan salah satu anggota keluarganya, namun tidak memikirkan kemungkinan nasi tersebut basi sesampai di pondok. Selanjutnya dia mengucapkan terima kasih kepada saya dan menawarkan daging buruan dan buah rambutan yang berhasil dikumpulkan. Teman tim saya menolak dengan halus karena buah rambutan tersebut telah bercamur dengan darah dan daging babi. Sementara saya hanya mengambil rambutan beberapa buah saja. Selanjutnya dia menunjuk-nunjuk ke arah lembah dan mengatakan bahwa di tempat tersebut terdapat beberapa pohon durian dan dia telah mengumpulkan beberapa buah dan ditinggalkan untuk kami. Di akhir perjumpaan, dia mengucapkan terima kasih lagi, demikian juga si ibu dan kedua anaknya di kejauhan mengucapkan terima kasih dengan cara melambai sambil tersenyum.
Ah, rupanya mereka kembali menemui kami hanya untuk mengucapkan terima kasih atas sebungkus nasi dan berusaha membalasnya. Meskipun kehidupan mereka primitif, namun hati mereka masih murni. Hanya sebungkus nasi, namun mereka membalasnya dengan sekerat daging buruan dan setumpuk buah rambutan –yang tidak kami ambil – serta setumpuk buah durian. Sore itu kami pesta buah durian sampai kenyang di lembah.
Kamis, 11 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar