siang itu di terminal bis subang udara terasa panas, badan kami sudah lelah, bis ekonomi dari bandung penuh sesak, sementara bapak tua di kursi sebelah ngajak ngobrol sepanjang jalan, tentunya dengan bahasa sunda yang kental dan membuat saya melongo karena saat itu saya masih belum fasih berbahasa sunda (sampai sekarang, hehe...). ditambah lagi semalaman kami tidak tidur karena kalah berebut bangku dengan pengemis di terminal kelapa...
kami masih duduk menunggu, tapi menunggu apa tidak jelas. ya..., kami cuma duduk2 saja sepanjang siang itu. merokok sambil melamun. saya lirik arif, teman saya, dia melamun sambil senyum2 sendiri, mungkin dia sedang membayangkan gadis2 jogya yang baru ditinggalkannya. kami memang baru dari jogya, tapi kami berpisah selama seminggu di sana, dia hepi2 di sana, sementara saya pulang ke rumah karena ada selametan 40 hari bulik saya yang meninggal akibat leukimia. lamunan terus berlanjut sampai akhirnya ada yang teriak, cipunegara, cipunegara... sontak kami berdua berdiri, "cipunegara" mengingatkan kami akan nama sungai. "arah mana pak, kanan atau kiri...?" "kanan" kata calo itu. tanpa tanya2 lagi kami langsung naik ke dalam angkutan pedesaan itu.
selama perjalanan kami menikmati dalam diam hingga si kernet teriak, "pegaden, pegaden...", baru kami sadar bahwa arah yang kami ambil salah. petunjuk yang diberikan oleh bapak tua di bis tadi adalah, "sebelum masuk terminal, ambil arah kanan", sementara kami, keluar dari terminal, ambil arah kanan, jadi malah arah sebaliknya... akhirnya saya bertanya dengan kernet,
"pak, bener nih ke cipunegara, cipunegara yang mana...?".
"cipunegara, kecamatan. memangnya akang bade kamana..?"
"mau ke sungai cipunegara"
"sungai cipunegara mah panjang atuh kang...kampung apa namanya kang?"
"bantarwaru, pak"
"bantarwaru mah lewat jalan yang ke kiri, bukan yang ini kang. akang salah naik..."
oh, my god... kami berdua langsung lemes. tapi kami tetap diam saja. tiba2 cewe yang duduk di bagian depan bertanya.
"akang mau ke bantarwaru ya? ikut turun dengan saya saja nanti, kampung saya dekat dengan bantarwaru, ga sampai satu jam jalan kaki nyampe, atau nanti pake ojeg..."
sebuah penawaran yang bagus, dari cewe cantik pula, dalam keadaan bingung seperti ini pantang di sia-sia kan. tawaran itu langsung kami sambut. dan begitu turun angdes, ongkosnya kami bayarkan...tapi kok ada cowok yang ikut turun juga, jangan2... ah, persetan, paling2 saudaranya.
kami berempat menyusuri jalan tanah. arif ngobrol dengan cowok itu di depan, sementara saya dengan cewek itu agak di belakang. tak terasa telah 5 km kami berjalan, cewek itu mengeluh bahwa kakinya penat serta lecet, dan melepaskan sepatunya, dan sekarang dia telanjang kaki sehingga jalan kami menjadi lebih lambat. tak lama kemudian kami berbelok menyusuri persawahan. karena teman saya dan cowok itu berjalan jauh di depan, saya dan cewek itu jadi leluasa ngobrol, kami saling bercanda layaknya pacaran gaya pedesaan, hehe... saya lihat cowok itu cuma menoleh sekilas dengan apa yang kami perbuat. kami masih saling bercanda, kadang kami saling dorong sementara udara masih terasa panas meskipun sudah sore.
"kang, cape kang, badan keringetan nih. boleh buka baju ya...?"
kata cewek itu tiba2, tanpa menunggu jawaban saya, dia langsung buka baju dan tinggal -maaf- pakaian dalamnya saja, saya lihat badannya yang putih mulus penuh dengan keringat, wow, sexy banget...cowok yang di depan hanya diam melirik saja, dan saya lihat dia mempercepat langkahnya. saya jadi tidak enak, dan ikut mempercepat langkah, namun sekarang tanpa canda lagi (walaupun masih lirik2 menikmati tubuh bagus...)
sesampai di rumah mereka (kampung cigayeuem atau semacamnya, saya lupa), si cewek langsung menyuruh cowok itu untuk membeli es batu ke warung, sementara kami bertiga ngobrol di dalam rumah. arif lebih memilih melihat-lihat ruang tamu, tak lama kemudian dia keluar ke teras depan.
"kang, sebentar ya, saya mau ganti baju dulu, gerah nih..." kata cewek itu sambil masuk ke kamar. tak lama kemudian dia keluar kamar...
what's the hell, kalo tadi dia masih pake celana panjang jeans, sekarang dia cuma pake -maaf- pakaian dalam semua (celana kolor dan bra dari kain katun).
masih dalam kebingungan (atau terpana,,,?), sang cowok masuk sambil membawa es batu, menaruhnya di meja, melihat sepintas ke arah kami, dan...
"saya pergi dulu, nyarikan ojeg buat akang. akang istirahat dulu..." dan selanjutnya cowok itu pergi lagi.
setelah kepergian cowok itu, si cewek kembali mengajak bercanda dan menawarkan makanan, mangga, tape singkong, dll. kadang-kadang cara bercandanya terlalu menggoda. satu jam sudah berlalu, waktu yang terlalu lama untuk sekedar mencari ojeg, perasaan saya menjadi tidak enak, sementara teman saya, arif, masih di luar, sama sekali tidak mau masuk ke dalam. untuk menghilangkan rasa risih, saya mencoba menghindar dengan melihat-lihat ruang tamu.
ruang tamu yang sederhana, dengan hiasan jam dinding tua dan lukisan pemandangan yang sudah usang tergantung di dinding. di sudut ruangan ada sebuah meja, di atasnya tertumpuk buku-buku, majalah dan sebuah figura kecil berisi potret. saya mendekat mengamati potret itu, oh...sebuah potret pengantin, si cowok dan si cewek itu. jadi, mereka berdua bukanlah kakak beradik, tapi sepasang suami istri...
langsung saja saya taruh potret itu di meja dan pergi keluar. tidak peduli lagi si cewek itu memanggil-manggil. cewek itu masih mencoba menyusul keluar dan meminta kami masuk. tapi karena tidak kami hiraukan akhirnya dia masuk ke dalam rumah. kami berdua hanya berdiri mematung di luar, dan menunggu ojeg yang dijanjikan.
lumayan lama kami menunggu hingga akhirnya si cowok datang bersama ojeg. lega rasanya melihatnya datang. begitu akan berpisah, saya minta maaf kepada cowok itu atas kekhilafan saya dan meyakinkan padanya bahwa tidak terjadi apa2 selama ditinggalkannya. si cowok cuma diam sambil senyum2 saja. dan akhirnya kami pergi bersama tukang ojeg meninggalkan pasangan tersebut.
begitu kami mulai menjauh, saya tanya kepada teman saya,
"kamu sudah tau ya klo mereka itu suami istri?"
"sudah" jawab arif kalem
"kok kamu diem aja, ga kasih tau aku, coba kalo aku tadi tergoda, gimana...?"
" justru aku tadi ngasih kesempatan buat kamu, hehe..."
"sialan kamu rif..."
"tadi waktu di sawah, cowok itu cerita bahwa rumah tangganya sudah ga hamonis lagi. dia dan istrinya ingin bercerai tapi mereka ga punya alasan untuk cerai. aku ga tau klo ternyata cewek itu istrinya. aku baru sadar setelah ngliat potret pengantin di rumahnya. mungkin dengan adanya kamu bisa dijadikan alasan mereka untuk cerai. aku mau kasih tau kamu, tapi kulihat kamunya nyosor juga. ya sudah, aku keluar aja. kasih kesempatan buat kawan..."
"ah, masa sih gitu, bisa-bisanya kamu aja kali..."
"terserahlah klo ga percaya"
selanjutnya kami masih membicarakan kejadian tadi sambil menikmati perjalanan yang tersisa di sore itu, naik satu sepeda motor ojeg bertiga menyusuri jalanan tanah, pematang sawah, menyeberangi sungai, kebun dan hutan jati.
----------------------------------------------------------------------------------
saya jadi teringat pengalaman ini karena lagu mulan jamilee, "makhluk tuhan paling sexy".
btw, terlepas dari permasalahan di atas, si cewek subang itu memang bener2 sexy, hehe...
to arif : kapan kita ke bantarwaru lagi, nengok nyai-nyai kita yang di sana, hehe...
Minggu, 14 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar